Sabtu, 17 Januari 2015

SOP PEMBIDAIAN

                                                SOP PEMBIDAIAN

Pemasangan bidai adalah suatu tindakan untuk mengatasi atau membantu pasien yang mengalami patah tulang sehingga tidak terjadi pergerakan / pergeseran sehingga pasien tidak merasa sakit. Prosedur ini dilakukan sebagai acuan dan langkah-langkah dalam pelaksanaan pemasangan bidai / spalk pada pasien. Pemasangan bidai / spalk pada pasien patah tulang dilakukan oleh petugas IGD untuk mencegah komplikasi.
Selain itu pembidaian juga dikombinasikan dengan tekhnik pembalutan perban atau dengan kain mitela, dengan tujuan untuk :
1.      Mencegah pergerakan bagian tubuh yang cidera.
2.      Menyangga luka.
3.      Mengurangi atau mencegah edema.
4.      Mengamankan bidai dan balutan.
Adapun jenis-jenis pemasanagn perban diantaranya dapat dilihat pada table dibawah ini :
Jenis
Deskripsi
Tujuan atau Manfaat
Melingkar
Perban dilitkan ai atas lilitan sebelumnya sampai ujung terakhir perban.
Menahan perban pada lilitan pertama dan terakhir, menutupi bagian tubuh yang kecil (jari tangan, jari kaki).
Spiral
Lilitkan perban ke arah atas bagian tubuh melintasi setengah atau dua pertiga lebar lilitan sebelumnya.
Menutupi bagian tubuh yang berbentuk silinder seperti pergelangan tangan atau lengan bagian atas.
Spiral terbalik
Balikkan lilitan perban pada pertengahan setiap lilitan perban yang dibuat.
Menutupi bagian tubuh yang berbentuk kerucut seperti lengan bawah, paha atau betis. Berguna bila menggunakan perban yang tidak elastis seperti perban kassa atau flannel.
Bentuk delapan
Lilitkan perban secara miring pada lilitan sebelumnya kea rah aats dan bawah dari bagian yang akan di perban. Setiap lilitan melintasi lilitan sebelumnya untuk membuat bentuk delapan.
Menutupi sendi, bentuk yang pas memberikan dampak imobilisasi yang sangat baik.
Rekuren
Pertama-tama ikatkan perban dengan lilitan sirkular pada ujung proksimal bagian tubuh sebanyak dua kali. Buat setengah lilitan tegak lurus dengan tepi perban. Perban dililitkan ke ujung distal bagian tubuh yang akan ditutupi oleh setiap lilitan dengan setiap lilitan dilipat kea rah belakang.
Menutupi  bagian tubuh yang tidak rata misalnya kepala atau tempat dilakukan amputasi.


A.    Persiapan Alat
1.      Perban dengan ukuran sesuai yang akan digunakan. Lebar dan nomor perban disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk bahan elastic biasanya tersedia dalam ukuran 20cm serta 135 dan 270cm, ukuran 7,5cm dan 10cm yang paling sering digunakan.
2.      Kain mitela (sesuai kebutuhan).
3.      Spalk (sesuai kebutuhan).
4.      Peniti pengaman (sesuai kebutuhan).
5.      Plester
6.      Gunting Plester.

B.     Persiapan Pasien
1.      Inspeksi adanya gangguan integritas kulit yang ditandai dengan abrasi, perubahan warna, luka, atau edema. (Lihat dengan teliti daerah penonjolan tulang).
2.      Observasi sirkulasi dengan mengukur suhu permukaan, warna kulit, dan sensasi bagian tubuh yang akan dibalut.
3.      Khusus untuk di Unit Gawat Darurat, perhatikan jika ada luka maka bersihkan luka, dan berikan balutan atau jahitan jika luka terbuka.
4.      Khusus untuk di Unit Perawatan, Kaji ulang adanya program khusus dalam catatan medis yang berhubungan dengan pemasangan perban elastic. Perhatikan area yang akan dipasang perban, jenis perban yang dibutuhkan, frekuensi penggantiannya dan respon sebelumnya terhadap terapi.
5.      Kaji kebutuhan atau kelengkapan alat.
6.      Identifikasi rencana perawatan dan pengobatan.
7.      Menjelaskan prosedur kepada klien. Jelaskan bahwa tekanan lembut dan ringan yang diberikan bertujuan untuk meningkatkan sirkulasi vena, mencegah terbentuknya bekuan darah, mencegah gerakan lengan, menurunkan/mencegah timbulnya bengkak, memfiksasi balutan operasi dan memberikan tekanan.
8.      Mengatur posisi pasien. Bantu agar pasien mendapat posisi yang nyaman dan benar sesuai anatomik.
9.      Mencuci tangan.

                                                            PELAKSANAAN

Pengertian
Melakukan immobilisasi ekstremitas yang cidera dengan dugaan patah tulang atau dislokasi dengan bidai.
Tujuan
-     Immobilisasi sehingga membatasi pergerakan antara 2 bagian tulang yang patah saling bergesekan
-     Mengurangi nyeri
-     Mencegah kerusakan jaringan lunak, pembuluh darah dan syaraf di sekitarnya
Indikasi
·     Pasien dengan multiple trauma
·      Jika terdapat tanda patah tulang
Persiapan Alat
-     Bidai sesuai dengan kebutuhan (panjang dan jumlah)
-          Kassa gulung
-          Gunting
-          Kassa steril (bila perlu)
-          Plester
-          Hand schoen
Pelaksanaan
1.       Cuci tangan dan pakai hand schone
2.       Dekatkan alat-alat didekat pasien
3.       Berikan penjelasan kepada pasien tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan
4.       Bagian ekstremitas yang cidera harus tampak seluruhnya, pakaian harus dilepas kalau perlu digunting
5.       Periksa nadi, fungsi sensorik dan motorik ekstremitas bagian distaldari tempat cidera sebelum pemasangan bidai
6.       Jika nadi tidak ada, coba luruskan dengan tarikan secukupnya, tetapi bila terasa ada tahanan jangan diteruskan, pasang bidai dalam posisi tersebut dengan melewati 2 sendi
7.       Bila curiga adanya dislokasi pasang bantal atas bawah, jangan coba diluruskan
8.       Bila ada patah tulang terbuka, tutup bagian tulang yang keluar dengan kapas steril dan jangan memasukkan tulang yang keluar ke dalam lagi, kemudian baru dipasang bidai dengan melewati 2 sendi
9.       Periksa nadi, fungsi sensori dan motorik ekstremitas bagian distal dari tempat cidera setelah pemasangan bidai
10.   Bereskan alat-alat dan rapikan pasien
11.   Lepas hand schone dan cuci tangan



Tidak ada komentar:

Posting Komentar